Syariah Hebat

Q & A Ekonomi Syariah

Perbankan Syariah

Recent Posts

Ini Beda Asuransi Syariah dan Konvensional

5:51 AM Add Comment
Ini Beda Asuransi Syariah dan Konvensional - Produk asuransi syariah memang belum terasa akrab di telinga masyarakat. Padahal produk ini banyak menawarkan kelebihan dibandingkan dengan produk asuransi konvensional yang sudah ada.


Ahmad Prasetyadi, Marketing Communication Asuransi Takaful Keluarga, menjelaskan perbedaannya terletak pada pembagian risiko. Dalam skema syariah dikenal dengan prinsip sharing risiko antar nasabah.

"Perbedaan asuransi syariah dengan konvensional, salah satunya dari share of risk. Kalau asuransi konvensional, ada transfer of risk dari nasabah ke perusahaan. Sedangkan asuransi syariah punya prinsip sharing risiko antar nasabah," ujarnya kepada detikFinance, dalam event Pasar Rakyat Syariah 2015 di Senayan, Jakarta, Sabtu (13/6/2015).

"Takaful berperan sebagai fasilitator untuk kumpulkan dana dari nasabah. Misalnya sekumpulan orang, masing-masing setorkan dana. Dana yang terkumpul itu menjadi manfaat perlindungan yang akan diberikan untuk klaim kalau diantara mereka sendiri terjadi musibah," jelas Ahmad

Ini dinamakan dengan prinsip 'Tabarru', yaitu dana yang terkumpul diikhlaskan untuk saling membantu sesama nasabah.

“Keunggulan asuransi syariah, di samping memberikan manfaat proteksi, asuransi syariah punya manfaat sosial serta bernilai ibadah. Selain itu, asuransi syariah memastikan dana yang disetorkan nasabah berupa dana tabarru', dana investasi, serta ujrah (operational fee) dipisahkan dalam akun-akun yang berbeda selaras dengan prinsip-prinsip syariah yang adil dan menentramkan,” terangnya.

Di samping itu, asuransi syariah juga terbebas dari aktivitas riba dan risiko penipuan atau hal-hal yang merugikan nasabah.

"Transaksi dan pengelolaan dana yang dilakukan bebas riba, bebas gharar atau ketidakjelasan/penipuan, dan bebas maisir atau perjudian/spekulasi di bawah pengawasan Dewan Pengawas Syariah (DPS) berdasarkan arahan Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN - MUI). Kompetisi antar perusahaan asuransi syariah makin kompetitif. Tapi kami unggul karena full pledge sharia insurance pertama di Indonesia dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dalam industri," papar Ahmad.

Dari sisi investasi, juga melibatkan efek syariah meliputi saham syariah, sukuk, serta reksadana syariah. Sejauh ini sudah ada peningkatan pasar yang cukup signifikan karena semakin banyak yang memahami manfaat dan kelebihan asuransi syariah.

“Asuransi syariah menawarkan produk yang kompetitif menyesuaikan kebutuhan serta manfaat yang diinginkan peserta (nasabah). Asuransi syariah menyediakan solusi perencanaan keuangan untuk masa depan yang lebih baik” tukasnya.(Ekonomi Syariah)

Perbedaan Asuransi Syariah dengan Konvensional

5:49 AM Add Comment
Perbedaan Asuransi Syariah dengan Konvensional - Asuransi syariah secara teoritis masih menginduk kepada kajian ekonomi islam secara umum. Oleh karena itu, asuransi syariah harus tunduk kepada aturan-aturan syariah. Inilah yang kemudian membentuk karakteristik asuransi syariah secara dan membedakannya dengan asuransi konvensional. Beberapa perbedaan asuransi syariah dengan asuransi konvensional:



  1. Asuransi syariah memiliki  Dewan Pengawas Syariah(DPS), Dewan Pengawas Syariah ini tidak ditemukan dalam asuransi konvensional.
  2. Akad pada asuransi syariah adalah akad Tabbaru’(hibah), sedangkan asuransi konvensional akad berdasarkan lebih mirip jual beli.
  3. Investasi dana pada asuransi syariah berdasarkan bagi hasil(mudharobah), barsih dari gharar,  maysir dan riba. Pada asuransi konvensional memakai bunga(riba) sebagai landasan perhitungan investasi.
  4. Kepemilikkan  dana pada asuransi syariah merupakan hak peserta. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya secara syariah. Pada asuransi konvensional, dana yang terkumpul dari nasabah(premi) menjadi milik perusahaan. Sehingga, perusahaan bebas menentukan alokasi investasinya.
  5. Pembayaran klaim pada asuransi syariah diambil dari dana Tabbaru’(dana kebajikkan). Pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambilkan dari rekening dana perusahaan.
  6. Pembagian keuntungan pada asuransi syariah dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai prinsip bagi hasil dengan proporsi yang telah ditentukan. Pada asuransi konvensional seluruh keuntungan menjadi hak milik perusahaan.
  7. Asuransi syariah menggunakan sistem sharing of risk. Pada asuransi konvensional yang dilakukan adalah transfer of risk.
  8. Asuransi syariah dibebani kewajiban membayar zakat dari keuntungan yang diperoleh sedangkan konvensional tidak.(Ekonomi Syariah)

Pengertian Asuransi Syariah

5:48 AM Add Comment
Pengertian Asuransi Syariah Pengertian Asuransi Syariah berdasarkan Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah sebuah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui Akad yang sesuai dengan syariah.



Asuransi Syariah adalah sebuah sistem di mana para peserta mendonasikan sebagian atau seluruh kontribusi/premi yang mereka bayar untuk digunakan membayar klaim atas musibah yang dialami oleh sebagian peserta. Proses hubungan peserta dan perusahaan dalam mekanisme pertanggungan pada asuransi syariah adalah sharing of risk atau “saling menanggung risiko”. Apabila terjadi musibah, maka semua peserta asuransi syariah saling menanggung. Dengan demikian, tidak terjadi transfer risiko (transfer of risk atau “memindahkan risiko”) dari peserta ke perusahaan seperti pada asuransi konvensional.

Peranan perusahaan asuransi pada asuransi syariah terbatas hanya sebagai pemegang amanah dalam mengelola dan menginvestasikan dana dari kontribusi peserta. Jadi pada asuransi syariah, perusahaan hanya bertindak sebagai pengelola operasional saja, bukan sebagai penanggung seperti pada asuransi konvensional.

Tabarru’ 
Definisi tabarru’ adalah sumbangan atau derma (dalam definisi Islam adalah Hibah). Sumbangan atau derma (hibah) atau dana kebajikan ini diberikan dan diikhlaskan oleh peserta asuransi syariah jika sewaktu-waktu akan dipergunakan untuk membayar klaim atau manfaat asuransi lainnya. Dengan adanya dana tabarru’ dari para peserta asuransi syariah ini maka semua dana untuk menanggung risiko dihimpun oleh para peserta sendiri. Dengan demikian kontrak polis pada asuransi syariah menempatkan peserta sebagai pihak yang menanggung risiko, bukan perusahaan asuransi, seperti pada asuransi konvensional.

Oleh karena dana-dana yang terhimpun dan digunakan dari dan oleh peserta tersebut harus dikelola secara baik dari segi administratif maupun investasinya, untuk itu peserta memberikan kuasa kepada perusahaan asuransi untuk bertindak sebagai operator yang bertugas mengelola dana-dana tersebut secara baik. Jadi jelas di sini bahwa posisi perusahaan asuransi syariah hanyalah sebagai pengelola atau operator saja dan BUKAN sebagai pemilik dana. Sebagai pengelola atau operator, fungsi perusahaan asuransi hanya MENGELOLA dana peserta saja, dan pengelola tidak boleh menggunakan dana-dana tersebut jika tidak ada kuasa dari peserta.

Dengan demikian maka unsur ketidakjelasan (Gharar) dan untung-untungan (Maysir) pun akan hilang karena:

  1. Posisi peserta sebagai pemilik dana menjadi lebih dominan dibandingkan dengan posisi perusahaan yang hanya sebagai pengelola dana peserta saja. 
  2. Peserta akan memperoleh pembagian keuntungan dari dana tabarru’ yang terkumpul. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan asuransi konvensional (non-syariah) di mana pemegang polis tidak mengetahui secara pasti berapa besar jumlah premi yang berhasil dikumpulkan oleh perusahaan, apakah jumlahnya lebih besar atau lebih kecil daripada pembayaran klaim yang dilakukan, karena di sini perusahaan, sebagai penanggung, bebas menggunakan dan menginvestasikan dananya ke mana saja.

(Ekonomi Syariah)

Perlunya Edukasi Simultan Pasar Modal Syariah ke Institusi dan Investor

5:11 AM Add Comment
Perlunya Edukasi Simultan Pasar Modal Syariah ke Institusi dan Investor - Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida, mengatakan edukasi tetap harus diutamakan karena pemahaman masyarakat akan keuangan syariah masih menjadi kendala utama. Edukasi pun tak hanya perlu dilakukan kepada masyarakat yang menjadi investor, namun juga kepada institusi yang menyediakan suplai produk.



“Kalau dilihat dari sukuk adalah untuk penerbit sukuknya tentu kami akan melakukan dialog lebih intens pada perusahaan yang berpotensi menerbitkan sukuk, baik BUMN atau swasta. Itu sudah masuk ke program untuk melakukan edukasi dan diskusi, bahwa sukuk ada manfaatnya dan tidak susah dalam penerbitannya,” ujar Nurhaida.

Ia menambahkan saat ini masih ada pemahaman di perusahaan Indonesia yang merasa bahwa untuk terdaftar di pasar modal terlalu berbiaya tinggi dan terbebani terhadap keterbukaan informasi bahwa setelah menjadi emiten dianggap kegiatannya akan menjadi terbatas. “Oleh karena itu, kami akan revisi aturan dengan menyederhanakannya agar tidak lagi dianggap berat,” katanya.

Pihaknya juga akan memberikan insentif lain untuk penerbitan sukuk, misalnya berupa pungutan yang berbeda dengan konvensional. “Sekarang sudah ada keringanan untuk penawaran sukuk batas maksimal fee yang dikenakan lebih rendah dari obligasi konvensional. Itu yang akan terus kami pantau dan kaji apakah itu sudah cukup untuk meningkatkan minat perusahaan menerbitkan sukuk,” jelas Nurhaida.

Sementara di sisi investor (permintaan), edukasi juga penting. Jadi tidak hanya meningkatkan suplai, demand juga harus dibentuk. Menurut Nurhaida, dalam upaya meningkatkan demand, edukasi menjadi hal utama. Selain itu, juga adanya akses yang lebih mudah pada produk pasar modal syariah.

“Berbicara soal demand ini berarti investor. Kalau sukuk kebanyakan adalah investor institusi, seperti perusahan asuransi, dana pensiun, multifinance, dan lainnya. Alhamdulillah pihak-pihak ini juga ada di bawah pengawasan OJK, jadi lebih mudah koordinasi dan memberi pemahaman untuk bisa melihat sukuk sebagai produk yang cukup menguntungkan untuk investasi. Jadi kami tidak henti melakukan edukasi dan menyampaikan kemudahan-kemudahan yang ada,” pungkas Nurhaida.

Minimnya pemahaman masyarakat akan produk keuangan syariah menjadi isu utama industri, termasuk pasar modal syariah. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida, mengatakan edukasi tetap harus diutamakan karena pemahaman masyarakat akan keuangan syariah masih menjadi kendala utama. Edukasi pun tak hanya perlu dilakukan kepada masyarakat yang menjadi...
Yogie Respati yogie@mysharing.coEditorPengelola situs MySharing dan editor di Majalah Sharing. Bertanggung jawab atas topik Bisnis dan Keuangan. Alamat saya di Komunitas MySharing: http://mysharing.org/anggota/yogierespati/Keuangan Syariah

(Ekonomi Syariah)

Asma’ul Husna dan Keuangan Keluarga

5:09 AM Add Comment
Asma’ul Husna dan Keuangan Keluarga - “Fadzkuruunii adzkurkum…Maka ingatlah kepadaKu maka Aku pun akan ingat kepadamu…” (Al-Baqarah (2): 152)

Begitulah salah satu seruan Allah supaya kita senantiasa ingat  kepadaNya. Ayat ini dibahas panjang lebar di dalam kitab tafsir Ibnu Katsir. Beliau menyebutkan bahwa Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, katanya, Rasulullah bersabda: “Allah SWT telah berfirman, ‘Hai anak Adam, jika kamu mengingat-Ku dalam dirimu, niscaya Aku akan mengingatmu dalam diri-Ku. Dan jika kamu mengingat-Ku di tengah kumpulan (manusia), niscaya Aku akan mengingatmu di tengah kumpulan para malaikat (di tengah kumpulan yang lebih baik). Jika kamu mendekat kepada-Ku satu jengkal, niscaya Aku akan mendekat kepadamu satu hasta. Dan jika kamu mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadamu satu depa. Dan jika kamu mendatangi-Ku dengan berjalan kaki, niscaya Aku akan mendatangimu dengan berlari.’” (HR Bukhari).



Ekonomi Indonesia, Ekonomi Keluarga Kita
Dengan segala permasalahan ekonomi yang kita hadapi sekarang, seperti inflasi barang dan jasa yang sangat kerap kita hadapi, kerugian ekonomi pasca bencana atau kerusakan bumi seperti kasus asap baru-baru ini menjadikan sebagian dari kita putus asa dengan segala ikhtiar yang telah ditempuh. Baca saja berita CNN tentang kerugian akibat kebakaran hutan yang menurut KADIN Riau mencapai Rp.20 triliun atau menurut versi Center for International Forestry Research (CIFOR) kemungkinan bisa hingga Rp.200 triliun setelah ditambah dengan kerugian yang dialami oleh Malaysia dan Singapura, belum lagi jika ditambah kerugiaan dari Filipina yang kabarnya asap sudah tiba di sana.

Kerugian yang timbul adalah mulai dari pembatalan pesawat, kurangnya sinar matahari untuk pertanian, turunnya omset penjualan barang dan penyedian jasa karena kurangnya mobilitas, dan lain sebagainya. Sudah tentu semua ini menganggu pemasukan pendapatan sebagian keluarga. Lantas bagaimana solusinya?

Solusi Keuangan
Dalam mengelola keadaan defisit di saat keadaan seperti ini salah satunya adalah jika dapat mengencangkan ikat pinggang dengan mengurangi pengeluaran kebutuhan sekunder, mencari bahan subtitusi lebih murah untuk menutupi kebutuhan primer dan mengurangi makan di luar atau jalan-jalan keluarga. Tahap keduanya adalah mencari solusi pendapatan baru dan yakin bahwa Allah yang menetapkan rezeki bagi setiap mahluk jadi jangan pernah putus asa.

Tentu saja di sisi lain ada sebagian keluarga yang menikmati pendapatan yang lebih baik dari keadaan ekonomi yang disebut di atas, seperti penjual oksigen dalam tabung dan obat-obatan, masker penutup hidung dan air bersih, namun tetaplah hidup prihatin serta senantiasa berbagi dengan sesama. Apapun keadaannya, semuanya tidak kekal, maka dari itu baik dalam keadaan senang maupun susah, jangan pernah berhenti bersyukur dan berdoa supaya Allah Ya Akhir memberikan akhir hidup kita dalam keadaan terbaik dan akan masuk ke Surga Firdaus.

Dahsyatnya Doa
Banyak di antara kita melupakan dasyatnya dampak doa yang kita panjatkan kepada Allah untuk merubah nasib dan keadaan yang kita hadapi. Termasuk “Gerakan Nasional Revolusi Mental” yang sedang dicanangkan oleh pemerintah saat ini, harusnya juga menyentuh “bagaimana merevolusi cara kita berdoa”. “Percuma membangun Fisik tanpa membangun Pola Pikir  Masyarakat” kata Ir. H. Joko Widodo, Presiden RI.

Ikhtiar pembangunan fisik termasuk juga ikhtiar membangun keluarga dan mengelola keuangannya yang baik seharusnya didampangi dengan doa, dan doa yang baik adalah doa yang mengikuti syarat kabul dan adabnya. Barulah kemudian kita berharap bahwa doa kita akan diijabah, tanpa penghalang.

Saya tergelitik menyampaikan tulisan ini karena sering mendengar sebagian kita yang mengeluh “kenapa ya masalah asap ini tidak segera usai?”, “kenapa ya ekonomi Indonesia tidak bisa lebih cepat tumbuhnya?”, “kapan Indonesia akan bebas dari hutang?”, “kapan ya masyarakat kita bersih korupsi?” dan akhirnya “kenapa ya uang yang kubawa ke rumah selalunya tidak pernah cukup?”, atau “bagaimana supaya Allah membukakan lagi pintu-pintu rezeki bagi keluarga kita?”.

Namun sayangnya, kita lupa dahsyatnya doa, juga syarat dan adab berdoa sering tidak kita perhatikan seperti misalnya memastikan setiap yang dimakan dan diminum adalah halal, menghadap kiblat, tidak tergesa-gesa serta memuji Allah dengan nama-namaNya yang terbaik (Asma’ul Husna).

Menggunakan beberapa nama-nama Allah yang disesuaikan dengan keinginan berdoa terkesan sederhana namun hal ini dapat memberikan dampak yang luar biasa. Seperti dalam Al-‘Araf (7): 180 dimana Allah menganjurkan kita untuk menggunakan Asma’ul Husna dalam doa:

“Hanya milik Allah Asma’ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu…”

Disamping itu ada sebuah hadith Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud adalah sebagai berikut: “Apabila kalian berdoa, hendaknya dia mulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalaam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya.”

Semoga anjuran dari Al-Quran an hadith ini akan memberikan semangat bagi kita untuk mengenal Allah (ma’rifatullah) melalui nama-namanya yang berjumlah 99 ini.

Contoh doa dengan Asma’ul Husna
Banyak dari kita yang paham, sering mendengar kajian atau hafal Asma’ul Husna, tapi malas menggunakannya dalam doa. Padahal doa kita terdengar sangat sejuk ketika menggunakannya seperti: Ya Allah Ya Qaadir, hentikanlah bencana kebakaran hutan di Riau dan hutan-hutan lainnya, Ya Allah Ya A’liyy, Ya Syakuur, Ya Hamiid naikkanlah martabat Indonesia, jadikan bangsa ini bangsa yang banyak bersyukur lagi terpuji, Ya Allah Ya Haadi, tunjukanlah kami jalan yang Engkau ridhoi, Ya Allah Ya Razzaq, bukakanlah pintu-pintu rezeki bagi keluarga kami, Ya Allah Ya Mujiib, kabulkan doa kami.

Tips memahami dan menghafal 99 Asma’ul Husna 
Walau kita sibuk dengan bisnis, pekerjaan atau studi, sempatkanlah membaca buku-buku tentang Asma’ul Husna, membaca ayat-ayat Al-Qur’an beserta artinya yang menggunakan asma-asma di dalamnya. Sangat bagus jika dapat meluangkan waktu untuk mendengar kajian Asma’ul Husna di majlis atau online seperti yang sudah diselenggarakan oleh pengajian di Glasgow dan Pengajian Derby-Leicestershire-Nottingham di Inggris dan tentunya ada juga di kota – kota lainnya.

Bagi yang di Jakarta dan sekitarnya, dapat datang ke kajian rutin mengenai Asma’ul Husna seperti yang sudah didedikasikan oleh Andalusia Islamic Centre, Sentul City, Bogor, pada hari ahad kedua setiap bulan dimulai jam 7:30 pagi. Informasi yang didapati dari Imam Besar Masjid Andalusia bahwa jamaah yang hadir rata-rata bisa sebanyak seribu orang dewasa dan anak-anak termasuk mahasiswa dan mahasiswi STEI Tazkia atau bisa hingga 3.000 orang jika dipadukan acara-acara khusus seperti perayaan 1 Muharram, Maulid Nabi, dan lain sebagainya.

Kajian yang diberi nama “Sukses, Kaya, Bahagia dengan Asma’ul Husna dan Teladan Rasulullah SAW” ini dibawakan oleh Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec, Pimpinan Tazkia Group yang kerap didampingi oleh pembicara internal Tazkia, pembicara tamu baik pakar atau ulama asal Indonesia maupun mancanegara. Kajian yang sudah berlangsung lebih dari 4 tahun ini bulan depan, Ahad, 8 November 2015 akan membahas  asma yang ke-56 yaitu “Al-Hamiid” yang artinya “Yang Maha Terpuji” yang dapat dijumpai diantaranya di dalam  QS Huud (11):73, QS Al-Hajj (22):24, QS Luqmaan (31):12 dan QS Faathir (35):15.

Adapun teknik menghafal cepat Asma’ul Husna dapat dipelajari melalui kursus sehari dengan teknik menggunakan otak kanan yang banyak disediakan oleh majlis-majlis kajian di Indonesia. Jika berhasil menghafal, tentunya akan mempermudah kita dengan cepat menggunakan asma-asma yang terkait dengan doa yang kita panjatkan. Wallahu’alam.

Masih mengeluh? Masih malas berdoa? Tentu saja tidak lagi, bukan?

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Penulis dan Konsultan Sakinah Finance, Colchester, Inggris

(Ekonomi Syariah)